Gedung Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru, Riau, Indonesia
IKATANI
Semua Berita

Inovasi Ilmuwan Muda Indonesia di Kancah Global: Menang Kompetisi BRIN-FAO, Siap Menuju Roma

Inovasi Ilmuwan Muda Indonesia di Kancah Global: Menang Kompetisi BRIN-FAO, Siap Menuju Roma
Foto: Copyright FAO

Ikatani.id, INSPIRASI – Masa depan sektor peternakan dan agribisnis berkelanjutan di Indonesia kini berada di tangan para inovator muda. Hal ini dibuktikan melalui suksesnya ajang kompetisi penelitian nasional yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) di Jakarta pada 27-28 Maret 2026.

Kegiatan bertajuk Kompetisi Penelitian dan Inovasi Transformasi Peternakan Berkelanjutan ini menjaring lebih dari 170 peneliti muda dan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air. Mereka ditantang untuk menciptakan solusi konkret atas isu peternakan ramah iklim, kesehatan hewan, hingga digitalisasi rantai pasok.

Terobosan Kemasan Cerdas dan Kecerdasan Buatan (AI) Dari ratusan pendaftar, 10 tim terbaik terpilih memaparkan temuan mereka di depan dewan juri internasional. Kejutan muncul dari tim peraih Juara Pertama yang digawangi oleh Evelyn Gabriella Suliantoro, Husnul Wati, dan Ririn Mardiana Saputri.

Mereka menciptakan CabbioSense, sebuah kemasan daging pintar yang memanfaatkan antosianin dari kubis merah. Inovasi ini mampu mendeteksi kesegaran daging sapi secara real-time melalui sensor warna yang terintegrasi dengan kode QR, sehingga keamanan pangan dapat dipantau langsung secara digital.

Tak kalah memukau, Juara Kedua jatuh pada tim Afifah Zahwah Nuryana dkk dengan platform Smart BSF-Nexus. Teknologi berbasis AI ini dirancang untuk mengelola rantai pasok pakan ternak secara sirkular guna menekan resistensi antimikroba (AMR). Sementara itu, Juara Ketiga diraih Dionisius Aprisal Fenanlampri yang mengembangkan sistem pembelajaran mesin (machine learning) untuk memprediksi persebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) antarprovinsi.

Membangun Ekosistem Inovasi Nasional Ketua Penyelenggara dari BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menegaskan bahwa kompetisi ini merupakan langkah strategis untuk menghubungkan riset akademis dengan kebutuhan industri nyata.

"Kami ingin memastikan talenta muda Indonesia memiliki wadah untuk mempercepat hasil penelitian mereka menjadi implementasi yang berdampak luas bagi kebijakan dan ekonomi," ungkapnya.

Senada dengan itu, Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, mengapresiasi semangat para peserta. Ia menilai ilmuwan muda adalah pilar transformasi agribisnis global. Sebagai bentuk apresiasi, tim juara pertama akan diterbangkan ke Markas Besar FAO di Roma, Italia, untuk berpartisipasi dalam konferensi tingkat tinggi mengenai One Health.

Bagi para pemenang, ajang ini bukan sekadar mengejar trofi. Evelyn Gabriella menyatakan harapannya agar CabbioSense bisa segera masuk ke tahap industri. "Pencapaian ini memotivasi kami untuk memperluas kolaborasi dengan pemerintah dan sektor swasta demi sistem pangan yang lebih aman," ujarnya.

Melalui kolaborasi BRIN dan FAO ini, diharapkan ekosistem penelitian di Indonesia semakin inklusif dan tangguh, menempatkan Indonesia sebagai pusat inovasi peternakan berkelanjutan di mata dunia.

 

Sumber: fao.org