Gedung Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru, Riau, Indonesia
IKATANI
Semua Berita

Lawan Krisis Global, Mentan Amran Tegaskan Swasembada Pangan Indonesia Harga Mati

Redaksi, IKATANI.ID
27 March 2026 08:03
Lawan Krisis Global, Mentan Amran Tegaskan Swasembada Pangan Indonesia Harga Mati

Ikatani.id, JAKARTA – Di tengah bayang-bayang krisis pangan global yang diprediksi World Food Programme (WFP) akan mencapai level rekor pada 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Indonesia telah mengambil langkah berani untuk mengamankan kedaulatan pangannya. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang mengancam jalur logistik internasional menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat produksi dalam negeri.

"Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya swasembada bagi kita adalah mutlak," ujar Mentan Amran, Minggu (22/03/2026), dikuti dari lama resmi pertanian.go.id

 

Strategi Dua Pilar: Deregulasi dan Modernisasi

Untuk mencapai swasembada berkelanjutan, Kementan menjalankan dua pilar utama: deregulasi birokrasi dan transformasi pertanian modern. Tercatat, pemerintah telah memangkas sekitar 500 regulasi internal yang menghambat petani dan menerbitkan 13 Peraturan Presiden untuk mempercepat distribusi sarana produksi.

Salah satu reformasi paling berdampak adalah tata kelola pupuk. Dengan memangkas birokrasi, distribusi kini langsung dari Kementan ke Pupuk Indonesia lalu ke petani. Hasilnya, biaya pupuk turun hingga 20% dan volume serapan meningkat tanpa menambah beban APBN.

Surplus Beras dan Kesejahteraan Petani

Keberhasilan strategi ini tercermin pada angka produksi nasional. Produksi beras surplus mencapai 34,7 juta ton (naik 13% dibanding tahun lalu), dengan cadangan beras pemerintah menembus 4 juta ton. Tak hanya bicara angka produksi, kesejahteraan petani juga melonjak dengan Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 125, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.

"Kalau petani untung, mereka akan semangat menanam. Modernisasi membuat biaya produksi turun 50% dan efisiensi kerja naik 90%. Ini yang membuat kita optimis menatap lumbung pangan dunia," tegas Amran.

Ke depan, pemerintah terus menggenjot program ekstensifikasi melalui optimalisasi lahan rawa dan cetak sawah baru, terutama di Kalimantan dengan sistem irigasi modern. Langkah ini diproyeksikan menjadi penyangga utama ketahanan pangan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.

Sumber: pertanian.go.id