Ikatani.id, INSPIRASI – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kehutanan resmi memperkuat benteng pertahanan keanekaragaman hayati nasional. Berkolaborasi dengan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), sebuah proyek ambisius senilai Rp 74,6 miliar (USD 4,4 juta) diluncurkan untuk memerangi ancaman Spesies Asing Invasif (IAS) di berbagai ekosistem penting tanah air.
Proyek yang didanai oleh Global Environment Facility (GEF) ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas negara dalam mendeteksi dan mengendalikan organisme asing—baik hewan maupun tumbuhan—yang masuk dan merusak keseimbangan ekosistem asli Indonesia.
Ancaman Serius bagi Ekonomi dan Lingkungan
Spesies asing invasif bukan sekadar masalah lingkungan biasa. Data global menunjukkan bahwa spesies-spesies pengganggu ini berkontribusi hingga 60 persen terhadap kepunahan flora dan fauna di seluruh dunia. Selain merusak alam, kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai angka fantastis, yakni lebih dari USD 423 miliar per tahun secara global.
Di Indonesia, tantangan ini semakin nyata seiring meningkatnya mobilitas manusia dan perdagangan. Laporan tahun 2021 mencatat bahwa lebih dari separuh dari 54 taman nasional di Indonesia telah terpapar invasi spesies asing, yang mengancam kedaulatan pangan dan kesehatan manusia.
Fokus pada Bromo dan Bantimurung
Inisiatif bertajuk Strengthening Capacity for Management of Invasive Alien Species (SMIAS) ini akan memprioritaskan intervensi di dua kawasan konservasi utama:
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur): Melindungi ekosistem pegunungan yang unik.
Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung (Sulawesi Selatan): Menjaga kawasan karst terbesar kedua di dunia.
Direktur Konservasi Spesies dan Genetika, Ahmad Munawir, menyatakan bahwa proyek ini akan memperkuat koordinasi lintas sektor, mulai dari kebijakan di pusat hingga aksi nyata di lapangan. "Kedua wilayah ini memiliki nilai konservasi tinggi, namun menghadapi tekanan besar dari penyebaran spesies asing," jelasnya dalam peluncuran proyek di Bogor (12/3).
Pemberdayaan Masyarakat Adat
Salah satu poin krusial dari proyek SMIAS adalah keterlibatan aktif masyarakat lokal dan masyarakat adat. Proyek ini diproyeksikan akan meningkatkan ketahanan ekonomi bagi lebih dari 2.000 jiwa melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan tanaman obat yang lebih terjaga kualitasnya.
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menegaskan komitmennya untuk mendukung Indonesia mencapai target Better Environment dan Better Life. "Kami ingin memastikan bahwa perlindungan keanekaragaman hayati ini memberikan manfaat langsung bagi mata pencaharian warga yang bergantung pada hutan," ungkapnya.
Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen global Indonesia dalam Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal, dengan target ambisius untuk menekan laju masuknya spesies invasif hingga 50 persen pada tahun 2030.
Sumber: fao.org