Gedung Fakultas Pertanian Universitas Riau, Pekanbaru, Riau, Indonesia
IKATANI
Semua Berita

RAF 2026, Supriadi: Integrasi Padi Gogo di Lahan Sawit Solusi Swasembada Pangan Riau

Redaksi, IKATANI.ID
15 May 2026 03:44
RAF 2026, Supriadi: Integrasi Padi Gogo di Lahan Sawit Solusi Swasembada Pangan Riau
Plt Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Riau, Supriadi (kiri) sedang memaparkan materinya di Riau Agriculture Forum (RAF) 2026. Supriadi menekankan Riau harus mengejar pelauang peningkatan produksi Padi di lahan sawit.

Ikatani.id, PEKANBARU – Pemprov Riau melalui Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (PTPH) menekankan pentingnya terobosan strategi untuk memutus ketergantungan pangan Riau yang saat ini masih mencapai 77 persen.

Plt. Kepala Dinas PTPH Riau, Supriadi, dalam Riau Agriculture Forum (RAF) 2026, mengatakan bahwa integrasi komoditas tanaman pangan di lahan perkebunan menjadi kunci utama untuk melakukan lompatan produksi beras di Bumi Lancang Kuning.

Supriyadi menyoroti kontradiksi posisi Riau sebagai lumbung energi nasional yang justru memiliki kerentanan pangan cukup tinggi. Dengan tingkat produksi beras lokal yang baru mencapai 23 persen, ketahanan pangan Riau sangat bergantung pada stabilitas jalur logistik dari provinsi tetangga.

"Riau ini gudangnya energi, di bawah minyak dan di atas juga minyak. Namun di sisi lain, kita harus akui jika rantai pasokan jalan ke Sumbar, Sumut, atau Jambi terputus, kita mungkin hanya bisa bertahan selama tiga bulan. Kondisi gejolak global saat ini membuat posisi Riau memerlukan perhatian serius dari semua pihak," ujar Supriyadi saat menjadi salah satu narasumber di RAF 2026, Universitas Riau, Senin (11/5).

Ia menjelaskan bahwa tantangan geografis Riau yang cenderung datar (flat) membuat sistem irigasi konvensional sulit diterapkan, sehingga petani sangat bergantung pada pompanisasi dan curah hujan. Mengingat luas lahan sawah baku yang terbatas hanya sekitar 59.000 hektare, Supriyadi menilai target swasembada tidak akan tercapai tanpa adanya kolaborasi lahan dengan sektor perkebunan.

Pemerintah Provinsi Riau kini tengah menggagas strategi integrasi Padi Gogo pada lahan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). Dengan total luas lahan sawit mencapai 3,8 juta hektare, diperkirakan terdapat potensi replanting atau peremajaan lahan sekitar 100.000 hektare setiap tahunnya yang bisa dimanfaatkan untuk tanaman pangan.

"Di saat replanting terjadi, itulah peluang Padi Gogo bisa masuk. Jika 100.000 hektare lahan sawit yang sedang diremajakan ditanam Padi Gogo, maka peningkatan dan lompatan produksi padi di Riau sebenarnya sangat menjanjikan. Ini bukan sesuatu yang mustahil untuk dicapai jika kedua sektor ini berkolaborasi," tegasnya.

Selain strategi makro, Supriyadi juga mendorong aksi nyata di tingkat rumah tangga untuk menekan laju inflasi, khususnya pada komoditas cabai. Ia menantang para alumni pertanian untuk memberikan contoh nyata dengan memanfaatkan lahan pekarangan rumah masing-masing.

"Setiap rumah tangga cukup menanam sepuluh batang cabai saja. Hal sederhana ini akan sangat efektif mengurangi tekanan inflasi daerah. Kita sudah terlalu lama dimanjakan dengan kemampuan membeli karena dukungan ekonomi yang ada, namun kita harus bersiap jika sewaktu-waktu menghadapi kondisi luar biasa (force majeure)," tambah Supriyadi.

Menutup pemaparannya, ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berhenti saling menyalahkan dan mulai fokus pada aksi kolaboratif. Menurutnya, masa depan kedaulatan pangan Riau terletak pada keberhasilan mengintegrasikan sektor pertanian dan perkebunan secara sinergis.

Pemaparan taktis ini merupakan bagian dari rangkaian Riau Agriculture Forum 2026 yang juga disejalankan dengan pengukuhan pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Faperta Unri masa bakti 2026–2030. Melalui wadah IKATANI, diharapkan tercipta kemitraan strategis antara pemerintah dan alumni dalam mengawal program-program akselerasi pertanian berkelanjutan di Provinsi Riau.

Bagikan: WhatsApp