Artikel
Beranda / Artikel / Pengelolaan Penyakit BLB (Kresek) Pada Padi
Pengelolaan Penyakit BLB (Kresek) Pada Padi
Senin 22 Mei 2017


Penyakit BLB atau sering disebut sebagai penyakit Kresek merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman padi, yang disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae. Infeksi bisa terjadi pada semua tahapan perkembangan tanaman. Apabila serangan terjadi pada saat pembentukan anakan, bisa terjadi puso. Namun demikian kecenderungan di lapang, penyakit ini ditemukan pada masa vegetatif akhir atau masa generatif awal. Penurunan produksi yang diakibatkan oleh penyakit Kresek pada periode generatif awal dapat mencapai 10-20%. Sebaran penyakit Kresek dapat ditemukan hampir di seluruh wilayah Jawa.

Gejala awal penyakit Kresek pada daun terlihat berupa bercak kecoklatan memanjang sepanjang tepi daun, dan selanjutnya melebar ke arah tulang daun. Gejala lanjut, daun tanaman mengering dengan warna keabu-abuan. Pada tahap awal gejala, jika pagi hari dapat ditemukan eksudat / oose bakteri berwarna kekuningan pada permukaan daun yang terserang.

Penyakit Kresek termasuk dalam kategori penyakit yang terbawa benih. Artinya, apabila benih tanaman padi berasal dari tanaman yang terinfeksi, maka penyakit akan berkembang pada pertanaman selanjutnya. Dengan demikian serangan penyakit dapat terlihat mulai dari persemaian hingga periode generatif. Tingkat keparahan penyakit dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:

1.    Pemupukan Nitrogen yang tinggi

2.    Kondisi cuaca (angin kencang, hujan)

3.    Perkembangan meningkat seiring pertambahan umur tanaman

4.    Fase pembungaan merupakan periode kritis peningkatan keparahan penyakit.

5.    Varietas rentan penyakit Kresek

 

Pengendalian Penyakit Kresek

Pengendalian penyakit kresek dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun demikian yang perlu diperhatikan adalah pengendalian sebaiknya dilakukan dengan menggunaan prinsip Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Dalam hal ini pengendalian harus memperhatikan keseimbangan ekosistem, dan penggunaan pestisida kimia sebagai alternatif terakhir.

Prinsip pengendalian yang dapat dilakukan adalah:

1.    Penggunaan benih dan bibit sehat

2.    Penggunaan agens hayati Paenybacillus polymyxa pada benih, umur 14, 28 dan 42 hst

3.    Pemupukan berimbang, hindari pemupukan N berlebihan

4.    Hindari pemupukan saat tanaman memasuki fase bunting

5.    Sanitasi lingkungan dan gulma inang

6.    Pengairan berselang (intermitten irrigation)

7.    Penggunaan bakterisida bila serangan sudah mencapai ambang pengendalian.

 

Hagni Aratri

Alumnus Pertanian UNS angkatan 94

 

Sumber:

Ruswandi, dkk. 2007. Pedoman Pengendalian OPT Serealia. Ditlin TP. Jakarta

Triwidodo Arwiyanto. 2012. Pengelolaan Penyakit Hawar Daun Bakteri. Bahan Seminar. Fakultas Pertanian UGM.